Hati adalah pengendali. Jika ia baik, maka baiklah perbuatannya. Jika ia rosak, rosak pula perbuatannya. dengan itu wajiblah & perlu menjaga hati daripada di timpa kerosakan

menurut Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menyebutkan, ada lima perkara tentang kerosakan hati,

1) bergantung kepada selain Allah
2) angan-angan kosong,
3) bergaul dengan banyak kalangan teman (baik dan buruk),
4) kekenyangan dan
5) banyak tidur.
1. Bergantung kepada selain Allah (syirik)

Ini adalah faktor terbesar perosak hati. Tidak ada sesuatu yang lebih berdosa besar dari syirik kepada Allah. Jika seseorang syirik kepada Allah, maka Allah akan menyerahkan urusan orang tersebut kepada sesuatu yang ia bergantung kepadanya. Allah akan menghinakannya dan menjadikan perbuatannya sia-sia. Ia tidak akan mendapatkan sesuatu pun dari Allah, juga tidak dari makhluk yang ia bergantung kepadanya. Allah berfirman, ertinya:

"Dan mereka telah mengambil sembahan-sembahan selain Allah, agar sembahan-sembahan itu menjadi pelindung bagi mereka. Sekali-kali tidak, kelak mereka (sembahan-sembahan) itu akan mengingkari penyembahan (pengikut-pengikutnya) terhadapnya, dan mereka (sembahan-sembahan) itu akan menjadi musuh bagi mereka." (Maryam: 81-82)

"Mereka mengambil sembahan-sembahan selain Allah agar mereka mendapat pertolongan. Berhala-berhala itu tidak dapat menolong mereka, padahal berhala-berhala itu menjadi tentara yang disiapkan untuk menjaga mereka." (Yasin: 74-75)

Maka orang yang paling hina adalah syirik atau menyekutukan Allah. Ia seperti orang yang berteduh dari panas dan hujan di bawah rumah laba-laba. Dan rumah laba-laba adalah rumah yang paling lemah dan rapuh. Lebih dari itu, secara umum, asal dan pangkal syirik adalah dibangun di atas ketergantungan kepada selain Allah. Orang yang melakukannya adalah orang hina dan nista. Allah berfirman, ertinya:
"Janganlah kamu adakan tuhan lain selain Allah, agar kamu tidak menjadi tercela dan tidak ditinggalkan (Allah)." (Al-Isra': 22)

Kadang-kadang keadaan sebahagian manusia tertindas tapi terpuji, seperti mereka yang dipaksa dengan kebatilan. Sebahagian lagi terkadang tercela tapi menang, seperti mereka yang berkuasa secara batil. Sebahagian lagi terpuji dan menang, seperti mereka yang berkuasa dan berada dalam kebenaran. Adapun orang yang bergantung kepada selain Allah (musyrik) maka dia mendapatkan keadaan yang paling buruk dari empat keadaan manusia, yakni tidak terpuji dan tidak ada yang menolong.
2. Hanyut dalam angan-angan kosong

Angan-angan kosong tanpa matlamat adalah lautan tak bertepi. Ia adalah lautan tempat berlayarnya orang-orang tiada tujuan hidup. Bahkan dikatakan, angan-angan adalah modal orang-orang yang tiada bertujuan. Ombak angan-angan terus mengombang-ambingkannya, khayalan-khayalan dusta sentiasa menghanyutkannya. Laksana anjing yang sedang mempermainkan bangkai. Angan-angan kosong adalah kebiasaan orang yang berjiwa kerdil dan rendah. Masing-masing sesuai dengan yang diangankannya. Ada yang mengangankan menjadi raja atau ratu, ada yang ingin keliling dunia, ada yang ingin mendapatkan harta kekayaan melimpah, atau isteri yang cantik jelita. Tapi itu hanya angan-angan belaka. Berbalik pula orang yang memiliki cita-cita tinggi dan mulia, maka cita-citanya adalah berlandaskan ilmu, iman dan amal shalih yang mendekatkan dirinya kepada Allah. Dan ini adalah cita-cita terpuji. Nabi SAW memuji orang yang bercita-cita terhadap kebaikan.
3. Bergaul dengan banyak kalangan

Pergaulan adalah perlu, asalkan tidak bergaul secara berlebih-lebih. Pergaulan yang salah akan menimbulkan pelbagai masalah. Teman-teman yang buruk aqidahnya lambat laun akan menghitamkan hati, melemahkan dan menghilangkan rasa nurani, dan seterusnya akan membuatkan hanyut dalam memenuhi berbagai keinginan mereka yang negatif. Dalam kehidupan, kita sering menyaksikan orang yang kehancuran hidup dan serta seluruh kehidupannya gara-gara pergaulan. Biasanya output sebegini, kerana bergaulnya hanya untuk duniawi. Dan memang, kehancuran manusia lebih banyak disebabkan oleh sesama manusia. Oleh sebab itu, kelak di akhirat, banyak yang menyesal kerana salah pergaulan. Allah berfirman:

"Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zhalim menggigit dua tangannya seraya berkata, 'Aduhai (dulu) kiranya aku mengambil jalan bersama-sama Rasul. Kecelakaan besarlah bagiku, kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan itu teman akrab(ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al-Qur'an ketika Al-Qur'an itu telah datang kepadaku." (Al-Furqan: 27-29).

"Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang bertakwa." (Az-Zukhruf: 67).

"Sesungguhnya berhala-berhala yang kamu sembah selain Allah adalah untuk menciptakan perasaan kasih sayang di antara kamu dalam kehidupan dunia ini, kemudian di hari Kiamat sebagian kamu mengingkari sebagian (yang lain) dan sebagian kamu melaknati sebagian (yang lain), dan tempat kembalimu adalah Neraka, dan sekali-kali tidak ada bagimu para penolong." (Al-Ankabut: 25).

Inilah pergaulan yang didasari oleh tujuan duniawi. Mereka saling mencintai dan saling membantu jika tujuan duniawi yang diingini. Jika telah lenyap kepentingan tersebut, maka hubungan persahabatan itu akan melahirkan duka dan penyesalan, cinta berubah menjadi saling membenci dan melaknat. Kerana itu, dalam bergaul, berteman dan berkumpul hendaknya bertujuan kebaikan. Lebih tinggi lagi darjat jika tujuan hubungan persahabatan itu untuk mendapatkan kecintaan dan redha Allah


4. Makanan
Makanan perosak ada dua.

Pertama , merosak kerana zat, dan ia terbahagi menjadi dua jenis.
a)Yang diharamkan kerana hak Allah, seperti bangkai, darah, anjing, binatang buas yang bertaring dan burung yang berkuku tajam.
B)yang diharamkan kerana hak hamba, contoh, seperti barang curian, rampasan dan sesuatu yang diambil tanpa kerelaan pemiliknya, sama ada kerana paksaan, malu atau takut terhina.

Kedua , merosak kerana melampaui had pengambilan dan batasan. Seperti berlebihan dalam hal yang halal, kekenyangan melampaui batas. Sebab yang demikian itu membuatnya malas tuk mengerjakan ketaatan, sibuk dengan urusan mengalas perut untuk memenuhi hawa nafsunya. Jika telah kekenyangan, maka kita merasa berat dan malas dan kerana itulah syaitan mudah menghasut manusia. Syaitan masuk ke dalam diri manusia melalui aliran darah. Puasa mempersempit aliran darah dan menyumbat perjalanan syaitan. Sedangkan kekenyangan memperluaskann aliran darah dan membuatkan syaitan mudah tinggal lama. Barangsiapa yang makan dan minum dgn banyaknya, nescaya akan banyak tidur dan rugi dgn bayaknya. Dalam sebuah hadits masyhur disebutkan:

"Tidaklah seorang anak Adam memenuhi bejana yang lebih buruk dari memenuhi perutnya (dengan makanan dan minuman). Cukuplah bagi anak Adam beberapa suap (makanan) yang bisa menegakkan tulang rusuknya. Jika harus dilakukan, maka sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minumannya dan sepertiga lagi untuk nafasnya." (HR. At-Tirmidzi, Ahmad dan Hakim, dishahihkan oleh Al-Albani).

5. Terlebih tidur

Banyak tidur boleh mematikan hati, memenatkan badan, menghabiskan waktu dan membuat lupa serta menjadikan diri berasa malas. Di antara waktu tidur itu ada yang sangat dibenci, ada yang berbahaya dan tidak bermanfaat sama sekali. Sedangkan tidur yang paling bermanfaat adalah tidur saat sangat di perlukan. Segeralah tidur pada malam hari lebih baik dari tidur ketika sesudah larut malam. Tidur pada tengah hari (tidur siang) lebih baik daripada tidur di pagi atau petang hari. Bahkan tidur pada petang dan pagi hari lebih banyak mudharatnya daripada manfaatnya. Di antara tidur yang dibenci adalah tidur antara solat Subuh dengan terbitnya matahari. Sebab ia adalah waktu yang sangat strategik. Kerana itu, meskipun para ahli ibadah telah melewatkan sepanjang malamnya untuk ibadah, mereka tidak mahu tidur pada waktu tersebut hingga matahari terbit. Sebab waktu itu adalah awal, saat diturunkan dan dicurahkan rezeki, saat diberikannya berkat. Maka masa itu adalah masa yang strategik dan sangat menentukan masa-masa setelahnya. Secara umum, saat tidur yang paling tepat dan bermanfaat adalah pada pertengahan pertama dari malam, serta pada seperenam bagian akhir malam, atau sekitar lapan jam. Dan itulah tidur yang baik menurut pada doktor. Jika lebih atau kurang daripadanya maka akan berpengaruh pada kebiasaannya. Tidur yang tidak bermanfaat adalah termasuk
tidur pada awal malam hari, setelah tenggelamnya matahari. Dan ia termasuk tidur yang dibenci Rasullulah SAW
Wanita sinonim dengan kecantikan. Istilah "cermin" dalam bahasa Arab dekat sangat dengan wanita – kerana cermin itu dekat pula dengan kecantikan. Bercermin untuk kelihatan cantik. Ke mana-mana wanita pergi, cermin ada di sisi.Bagi yang tidak cantik bagaimana? Mereka bukan wanita?

Tunggu dulu, setiap yang Allah cipta pasti indah kerana Allah itu Maha Indah dan suka pada keindahan. Tuhan tidak mencipta manusia hodoh, Tuhan hanya mencipta manusia dengan kecantikan berbeza. Jadi, ingat itu... setiap wanita berhak untuk cantik!

Soalnya, di manakah letaknya kecantikan sebenar pada seorang wanita? Kalau kita tanyakan kepada para lelaki maka sudah pasti kita akan temui pelbagai jawapan. Ada yang merasakan kecantikan wanitaitu pada wajah, pada bentuk tubuh, pada kebijaksanaan atau pada tingkah lakunya.

Dan pada yang menyatakan kecantikan pada wajah pula terbahagi kepada pelbagai pandangan, ada yang mengatakan kecantikannya terletak pada hidung, pada mata dan sebagainya. Pendekata kecantikan itu bagi anggapan sesetengah orang sangat relatif sifatnya. Lain orang, lain penilaiannya.

Namun sebagai seorang Islam, kita tentulah ada kayu ukur tersendiri untuk menilai kecantikan. Kita tentunya mengukur kecantikan wanita mengikut kayu ukur Islam. Dan tentu sahaja kecantikan yang menjadi penilaian Islam adalah lebih hakiki dan abadi lagi.

Misalnya, kalaulah kecantikan itu hanya terletak pada wajah, wajah itu lambat-laun akan dimakan usia. Itu hanya bersifat sementara. Apabila usia meningkat, kulit akan berkedut tentulah wajah tidak cantik lagi. Jadi tentulah ini bukan ukuran kecantikan yang sejati dan abadi.

Sebagai hamba Allah, kita hendaklah melihat kecantikan selaras dengan penilaian Allah atas keyakinan apa yang dinilai oleh-Nya lebih tepat dan betul. Apakah kecantikan yang dimaksudkan itu? Kecantikan yang dimaksudkan ialah kecantikan budi pekerti ataupun akhlak. Itulah misi utama kedatangan Rasulullah SAW – untuk menyempurnakan akhlak manusia.

Kecantikan akhlak jika ada pada seseorang, lebih kekal. Inilah kecantikan yang hakiki mengikut penilaian Allah. Hancur badan dikandung tanah, budi baik di kenang juga. Kecantikan akhlak ini juga adalah satu yang lebih abadi. Kata pepatah lagi, hutang budi dibawa mati. Malah akhlak yang baik juga sangat disukai oleh hati manusia. Contohnya, kalaulah ada orang yang wajahnya sahaja cantik tetapi akhlaknya buruk, pasti dia akan dibenci.

Ya, mata menilai kecantikan pada rupa. Akal menilai pada fikiran. Nafsu menilai pada bentuk tubuh. Tetapi hati tentulah pada akhlak dan budi. Kecantikan akhlak ini diterima oleh semua orang. Katalah orang jujur, siapapun suka. Semua orang sepakat menyayangi orang yang jujur itu disukai. Sedangkan jika menurut ukuran rupa, penilaian manusia tetap tidak sama. Sebab itu ada pepatah yang mengatakan, 'beauty in the eye of beholder'.

Rasulullah saw juga telah pernah menegaskan, sebaik-baik perhiasan adalah wanita yang solehah. Wanita solehah ialah perhiasan rumah-tangga, perhiasan masyarakat dan perhiasan negara. Jika ada ibu yang solehah, anak-anaknya tentu mendapat manfaat. Mereka akan terdidik dengan baik.

Jika ada isteri yang solehah, suami pun akan mendapat manfaat. Para isteri ini akan memudahkan urusan rumah-tangga, menjalinkan hubungan keluargha dengan penuh kasih-sayang dan lain-lain. Tuturkatanya baik, tingkah lakunya baik, senyumannya menawan dan segala-galanya indah... mereka bayangan bidadari syurga di dunia ini.

Kenapa banyak wanita yang memiliki kecantikan tetapi musnah hidupnya? Ada ungkapan yang berbunyi, kemusnahan akan menimpa bilawanita mula merasai dirinya cantik dan mempamirkan kecantikan. Sejauhmana benarnya, wallahua'lam. Tetapi apa yang pasti, menurut Islam jika kecantikan tidak disertai iman yang kuat, maka pemiliknya akan hilang kawalan diri. Akibatnya ramai wanita cantik diperdayakan oleh syaitan untuk menggoda manusia melakukan kemungkaran. Lihatlah di sekeliling kita. Kata orang, bunga yang cantik jarang yang harum! Ini sudah menjadi sesuatu yang lumrah.

Tanpa iman, kecantikan akan dipergunakan ke arah kejahatan dan kemaksiatan, yang akhirnya akan memusnahkan diri pemiliknya dan orang lain. Cuba kita lihat apa yang terjadi kepada bintang filem barat (di sinipun apa kurangnya), ada yang memporak-perandakan negara, rumah-tangga dan berakhir dengan sakit jiwa dan bunuh diri.

Cantik tidak salah, tetapi salah menggunakan kecantikkan itulah yang salah. Kata orang, wanita yang cantik jarang berakhlak. Umpama bunga yang cantik, jarang yang wangi. Tetapi kalau cantik dan berakhlak pula, inilah yang hebat. Umpama cantiknya wanita solehah pada zaman nabi seperti Siti Aishah RA dan lain-lain.

Bagaimana mendapat kecantikan sejati? Perlu kita faham kecantikan itu bermula dari dalam ke luar. Bukan sebaliknya. Oleh itu pertama, tanamkan di dalam hati kita iman yang benar-benar kuat berdasarkan ilmu yang tepat dan penghayatan yang tinggi. Iman itu keyakinan, kasih sayang, kemaafan, sangka baik dan reda. Rasa-rasa ini buktikanlah dengan perbuatan yang baik. Bila hati baik, wajah akan sentiasa cantik.

Jadi perkara kedua ialah susulilah iman itu dengan perbuatan yang baik. Ertinya, kita atur kehidupan mengikut syariat atau peraturan Tuhan. Dan apabila iman ditanam, syariat ditegakkan, akan berbuahlah akhlak yang mulia. Wajah, perilaku dan peribadi kita akan nampak cantik sekali. Inilah yang dikatakan kecantikan yang hakiki. Biar buruk rupa, jangan buruk perangai. Apa gunanya mulut yang cantik kalau kita gunakan untuk mengumpat?

Ya, kecantikan akhlak... boleh dimiliki oleh sesiapa sahaja, oleh yang rupawan mahupun yang hodoh. Itu bukti keadilan Allah yang mencipta wanita dengan berbagai wajah dan rupa... tapi peluangnya untuk "cantik" tetap serupa!


Pada suatu pagi di satu sekolah menengah, ada seorang pelajar bertanya pada seorang guru yang sedang mengajar. Ketika itu, guru tersebut sedang menyentuh mengenai kasih dan sayang secara am. Dialog di antara pelajar dan guru tersebut berbunyi begini:

Pelajar: Cikgu, macam mana kita nak pilih seseorang yang terbaik sebagai orang paling kita sayang? Macam mana juga kasih sayang itu nak berkekalan?

Cikgu: Oh, awak nak tahu ke? Emmm…baiklah, sekarang kamu buat apa yang saya suruh. Ikut je ye…mungkin kamu akan dapat apa jawapannya.

Pelajar: Baiklah…apa yang saya harus buat?

Cikgu: Kamu pergi ke padang sekolah yang berada di luar kelas sekarang juga. Kamu berjalan di atas rumput di situ dan sambil memandang rumput di depan kamu, pilih mana yang PALING cantik tanpa menoleh ke belakang lagi walaupun sekali. Dan kamu petiklah rumput yang PALING cantik yang berada di depan kamu tersebut dan selepas itu bawa balik ke kelas.

Pelajar: Ok. Saya pergi sekarang dan buat apa yang cikgu suruh.

Apabila pelajar tersebut balik semula ke kelas, tiada pun rumput yang berada di tangannya. Maka cikgu pun bertanya kepada pelajar tersebut.

Cikgu: Mana rumput yang cikgu suruh petik?

Pelajar: Oh, tadi saya berjalan di atas rumput dan sambil memandang rumput yang berada di situ, saya carilah rumput yang paling cantik. Memang ada banyak yang cantik tapi cikgu kata petik yang paling cantik maka saya pun terus berjalan ke depan sambil mencari yang paling cantik tanpa menoleh ke belakang lagi. Tapi sampai di penghujung padang , saya tak jumpa pun yang paling cantik. Mungkin ada di antara yang di belakang saya sebelum itu tapi dah cikgu cakap tak boleh menoleh ke belakang semula, jadi tiadalah rumput yang saya boleh petik.

Cikgu: Ya, itulah jawapannya. Maknanya, apabila kita telah berjumpa dengan seseorang yang kita sayang, janganlah kita hendak mencari lagi yang lebih baik daripada itu. Kita patut hargai orang yang berada di depan kita sebaik-baiknya. Janganlah kita menoleh ke belakang lagi kerana yang berlaku tetap dah berlaku. Dan semoga yang berlalu tidak lagi berulang. Jika kita berselisih faham dengan orang yang kita sayang itu, kita boleh perbetulkan keadaan dan cuba teruskan perhubungan tersebut walaupun banyak perkara yang menggugat perhubungan tersebut. Dan ingatlah orang yang kita sayang itulah kita jumpa paling cantik dan paling baik pada MULAnya walaupun nak ikutkan banyak lagi yang cantik dan baik seperti rumput tadi. KECUALILAH jika perhubungan tersebut tak boleh diselamatkan lagi, maka barulah kita mulakan sekali lagi. Maka sayangilah orang yang berada di depan kita dengan tulus dan ikhlas...
Teman...
Pada suatu ketika kita beriringan berbual mesra
Berbicara soal impian dan harapan
Berlagu melodi riang dan ceria
Menangisi perit dan derita

Bersama, kita mengejar dan menggapai bintang di langit
Yang tidak pasti akan menjadi milik kita
Walaupun ia tidak tergapai
Kita masih memegang utuh tali impian
Agar tidak terlepas dari genggaman

Perjalanan kita masih jauh
Menjadi harapan keluarga, nusa dan bangsa
Pernah kita mencipta impian untuk menggapai kejora bersama
Melangkah ke arah kejayaan bersama
Menghadapi rintangan yang datang
Pernah juga kita berbicara soal cinta
Soal pasangan igauan
Bagaimana menempuh alam dewasa
Yang tenyata cukup berliku

Andai kita tersungkur layu
Masih diharap sokongan bersama
Agar kembali berdiri teguh

Kita umpama pohonan kayu
Bersaingan mencambah daun menghijau
Mengharap sinaran cahaya
Namun masih berkait lengan
Menuju ke puncak bersama

Kini impian yang dahulunya bagai bulan dan bintang
Kian terdampar di lelangit bumi
Tali yang digenggami kian longgar
Menunggu waktu dilepaskan
Pohonan kayu yang utuh kian rapuh
Tiada lagi bualan mesra, impian dan harapan, melodi ceria atau tangisan derita
Semuanya lenyap...bagai bulan di air...
 
 




 
 
 
 
Sepuluh orang pembesar Yahudi telah datang menemui Sayidina Ali k.w.j secara bergilir-gilir. Mereka bertanyakan satu soalan yang serupa dan dijawab oleh Sayidina Ali dengan sepuluh jawapan yang berbeza-beza.

Soalannya: "Yang manakah lebih bermanfaat ilmu atau harta?"

" Tentulah ilmu" jawab Sayidina Ali.

" Apakah alasan tuan berkata demikian?"

Sayidina Ali menjawab: "Ilmu itu pusaka ataupun warisan para Nabi sebaliknya harta itu pusaka Qarun."

Soalan: "Yang manakah lebih bermanfaat,ilmu atau harta? "

Sayidina Ali pun pun menjawab: "Tentulah iImu kerana ilmu itu menjaga dan memelihara kita, tetapi harta kita pula yang terpaksa menjaga dan memeliharanya."

Kali ketiga Sayidina Ali pun menjawab: "Tentulah ilmu kerana orang yang berharta banyak musuhnya seperti pencuri dan penyamun, dan sentiasa pula bimbang akan hartanya itu. Sebaliknya orang yang berilmu ramai sahabat dan sentiasa selamat. "

Jawapan keempat : "Ilmu lebih bermanfaat kerana harta jika selalu digunakan akan berkurangan, sebaliknya ilmu jika selalu digunakan akan bertambah. "

Jawapan yang kelima: "Ilmu lebih bermanfaat kerana orang berharta kerap dipanggil dengan gelaran bakhil atau cela. Tetapi orang berilmu sering dipanggil dengan nama yang baik dan mulia."

Jawapan yang keenam: "Ilmu lebih bermanafaat kerana harta perlu dijaga supaya tidak dicuri tetapi ilmu tidak perlu menjaganya daripada kecurian."

Jawapan ketujuh: " Ilmu lebih bermanfaat kerana harta akan dihisab kelak tetapi ilmu akan memberi syafaat."

Jawapan kelapan: Sayidina Ali tetap mengatakan " Ilmu lebih bermanafaat kerana harta akan rosak sekiranya disimpan tetapi ilmu tidak akan rosak walau selama manapun disimpan."

Jawapan kesembilan: " Ilmu lebih bermanafaat kerana harta mengeraskan hati tetapi ilmu melembutkan hati."

Dan jawapan yang terakhir untuk pembesar Yahudi yang kesepuluh Sayidina Ali tetap mangatakan "ilmu lebih bermanfaat daripada harta kerana pemilik harta selalu merasakan dirinya hebat, malah ada yang merasakan dirinya Tuhan seperti Qarun. Tetapi pemilik ilmu selalu merasakan dirinya lemah dan hamba Allah."

Akhirnya sepuluh orang pembesar Yahudi itu berkumpul semula membincangkan jawapan yang diberi oleh SayidinaAli. Memang benarlah Sayidina Ali seorang yang tinggi ilmunya. Dengan kehendak Allah kesepuluh orang pembesar Yahudi itu pergi semula ke rumah Sayidina Ali untuk memeluk agama Islam.

Kata Sayidina Ali: "Jika datang lagi mereka kepada aku bertanyakan soalan yang sama, aku tetap akan memberikan jawapan yang berlainan sehingga akhir hayatku."



Saya bertanya kepada emak, "mak mana satu pilihan hati, orang yang sayangkan kita atau yang kita sayang?"

Mak jawab, "dua-dua bukan.."

Saya tercengang. Mak mengukir senyuman.

"Pilihan hati mak adalah yang sayangkan kita kerana Allah.." saya menarik nafas dalam-dalam.

"Macam mana nak tau orang tu sayang kita kerana apa?" Mak diam sekejap berfikir dan kemudian tersenyum.

Rasanya mak dapat menduga apa yang sedang bermain dalam hati anak perempuannya. Mana mungkin saya mampu menyorokkan rahsia hati dari mak sedangkan sekilas saya pun mak mampu membacanya.

"Yang paling tahu hanya Allah.." mak merenung dalam-dalam wajah anaknya.

"Kerana hanya Allah mampu membaca hati hambaNya.." mak menyusun ayat-ayatnya.

"Dan keikhlasan kerana Allah itu akan terserlah keberkatannya tanpa perlu sengaja ditonjokan oleh seseorang tu.."

Saya memintas, "Tak faham.."

Mak menyambung, "Cinta di dalam jalan Allah.. Bertemu kerana sama-sama mencari redha Allah.."

Mak menyambung lagi, "Begini, setiap insan yang bergelar manusia telah Allah ciptakan berpasang-pasangan. Rasa ingin dikasihi antara seorang suami dan isteri suatu fitrah. Automatik boleh ada daya tarikan magnet tu.."

Wajah saya merah, sedikit cemas jika mak dapat mengesan gelora jiwa muda ini..

Mak menyambung, "Setiap manusia telah Allah tetapkan rezeki, jodoh dan maut sejak azali lagi. Persoalannya ialah.. siapakah jodohnya itu?" mak berhenti seketika.

Saya tunduk malu, cuba menyorokkan rasa panas di pipi. Emak buat-buat tidak nampak.

"Mak dulu masa muda adasecret admire. Rajin betul dia hantar surat. Masa tu mak dah tahu yang bercinta sebelum kahwin ni tak halal. Mak nak belajar sungguh-sungguh. Lama budak tu tunggu mak. Akhirnya mak bagi kata putus, mak hanya akan membalas cinta dia jika dia sah suami mak. Dan dia memang bukan jodoh mak, maka tak pernah dia menerima balasan cinta tu," Mak merenung jauh. Saya merapatkan badan kepada emak, semakin berminat dengan kisah lama mak..

"Mak memang tak ada perasaan lansung pada dia ke?" saya menyoal sambil memandang tajam wajah mak.

Emak ketawa kecil.

"Walaupun mungkin ada, mak tak pernah bagi peluang pada diri mak untuk mengisytiharkan perasaan tu.
Mak takut pada Allah.
Mak bukan seperti rakan sebaya mak yang lain. Mak, seperti kakak.." Mak memandang saya sambil memegang pipi dan dagu saya. Kemudian tangannya mengusap rambut di kepala saya.

"Dulu bila di sekolah, mak pelajar pertama yang bertudung. Mak membawa imej agama. Kawan-kawan dan cikgu-cikgu panggil mak dengan gelaran mak Aji. Sebab zaman tu hujung 70-an dan awal 80-an tak ramai lagi yang bertudung betul menutup auratnya. Zaman tudung nipis dan nampak jambul. Kemudian kawan-kawan mak sikit-sikit ikut bertudung. Akhirnya kami semua dipanggil di perhimpunan. Kami dimarah guru besar kerana bertudung sedangkan ustazah kami bertudung tapi nampak jambulnya.." emak melemparkan pandangan ke lantai.

"Selepas itu ustazah jumpa kami secara persendirian. Ustazah kata dia tak mampu nak pakai seperti kami. Dia suruh kami teruskan.." sambung emak.

Adagetar di hujung suara emak. Kisah silam perjuangan emak di sekolah dahulu sikit-sikit emak ceritakan pada saya. Itulah juga salah satu inspirasi kepada saya untuk bangkit semula setiap kali terjatuh ketika berjuang di sekolah dulu.

"Mungkin kerana personaliti mak, mak menjadi tempat rujukan kawan-kawan mak. Jadi, bila mak nak ambil sesuatu tindakan, mak kena fikir betul-betul sama ada tindakan mak tu akan menyebabkan Allah marah atau tidak. Mak ayah berdosa tak? Dan maruah pembawa agama terjejas tak? Kalau mak membalas cinta si lelaki tadi, bermakna mak sedang menconteng arang di muka-muka pembawa-pembawa agama. Orang akan pandang serong terhadap orang yang bertudung sedangkan kesilapan tu hanya seorang dua yang buat. Besar fitnah akan timbul apabila orang-orang agama mengambil ringan batas syariat duhai anak.." mak menelan air liurnya.

Saya diam. Fikiran saya sedang cuba memahami maksud mak saya.

"Jatuh cinta perkara biasa. Apabila kita jatuh cinta pada seseorang, itu tandanya ada sesuatu keistimewaan pada seseorang tu. Apatah lagi orang yang kita jatuh cinta tu di atas jalan dakwah ni. Tetapi kita kena ingat.
Kita tak akan dikahwinkan dengan seseorang atas sebab jatuh cinta atau saling cinta mencintai.
Bercouple mungkin. Tetapi bukan berkahwin. Kerana kita berkahwin dengan jodoh kita, jodoh yang Allah dah tetapkan sejak azali. Dan tak mustahil orang yang kita paling benci itulah jodoh kita yang kita akan dikahwinkan dengannya.."

Tiba-tiba air mata saya mengalir. Argh! Ego saya kalah bila mendengar hujah emak.

Emak meneruskan, "Allah itu Maha Adil. Dia tak pernah menzalimi hamba-Nya. Sesungguhnya, yang selalu menzalimi hamba-Nya ialah diri hamba tu sendiri. Sebabnya hamba itu degil. Dia mahukan yang bukan haknya dan yang bukan milik dia. Mencintai seseorang tidak semestinya memilikinya.

Dalam Islam, kita dah diajar untuk saling mencintai antara satu sama lain seperti diri sendiri. Jadi apabila kita mencintai saudara perempuan, kita bebas peluk dia. Tetapi bila dengan lelaki, kita ada batas-batasnya.
Orang kafir kata batas-batas ini suatu diskriminasi, tetapi sebenarnya batas-batas syariat itulah yang memelihara kehormatan seorang lelaki dan seorang perempuan.
pula dengan yang lain. Tetapi itu tidak bermakna ukhwah antara kita dan dia terputus. Kita dan dia sama-sama mencari redha Allah. Kita dan dia masih boleh sama-sama bekerjasama untuk mencari redha Allah. Perbezaannya, dia halal untuk isterinya sedangkan untuk kita, dia tetap lelaki ajnabi seperti yang awalnya," emak berhenti seketika.
Cuba renungkan, kita mengenali seorang insan yang amat baik, sempurna agamanya dan rajin. Lalu kita jatuh hati padanya. Ditakdirkan jodohnya dengan insan lain, kita
Tentu kering tekak emak menerangkan kepada saya persoalan hati ini.

"Jadi di sini mak nak kamu faham, jatuh cinta bukan perkara luar biasa. Dan berkahwin pun bukan suatu jaminan untuk tak jatuh cinta pada lelaki lain. Kerana itulah ramai isteri yang curang, suami yang curang. Ada orang tukar pasangan macam tukar baju. Apa yang penting ialah kita kena perjelaskan pada diri kita supaya setiap kali kita jatuh cinta,
jatuh cinta itu kerana kita jatuh cinta kepada Pencipta dia. Kita beritahu pada diri kita berulang kali yang kita mencintai Allah, kerana itu kita mencintai si dia.Letakkan Allah sebagai sempadan hati kita,
segala perkara yang kita cintai dan sayangi termasuk mak ayah adalah kerana mencintai Allah. Dan apabila kita membenci seseorang atau sesuatu, beritahu pada diri sendiri berulangkali yang kita benci sekian-sekian hal kerana Allah semata-mata."
"Hati kita ni walaupun dalam dada kita sendiri, ia tetap bukan milik kita. Kita tak mampu untuk mengawalnya. Hanya Allah yang boleh memegangnya.Sebab tu kita kena dekatkan diri dengan Allah. Sebab kita nak dia pegang kukuh-kukuh hati kita.
Bila dia pelihara dan masuk dalam hati kita, itulah nikmat lazatnnya bercinta. Masa tu biarpun satu dunia menyakiti kita, kita tak rasa sakit sebab kita asyik dengan nikmat bercinta dengan Allah. Bercinta dengan Allah sangat berbeza dari bercinta dengan manusia. Kerana tentulah pegalaman bercinta dengan lelaki kaya, rupawan, sempurna dan bijaksana tak sama rasanya bercinta dengan lelaki miskin, hodoh,cacat dan dungu. Betapa nikmatnya cinta Allah, hanya mereka yang pernah merasai sahaja yang mampu mengerti."

"Walau siapapun jodoh yang Allah hantarkan untuk kamu, terimalah dengan hati yang redha. Tak mustahil dia adalah orang yang kita benci. Kalau yang kamu sayang, tak jadi hal lah. Tapi kalau dapat yang kamu tak nak, lantaran kelemahan yang ada pada dia
,ingatlah bahawa dalam diri setiap insan telah Allah ciptakan dengan kelebihan masing-masing.
Dan mungkin kamu ada kekuatan yang dapat mengubah si lelaki tadi supaya hidup dia bermakna dan mungkin kamu sahaja yang mampu mencungkil kelebihan yang ada pada dia. Mungkin juga si lelaki ini ada sesuatu kelebihan yang kamu sangat-sangat perlukan yang satu dunia tak mampu bagi pada kamu.. Alangkah bertuahnya kamu kalau kamu mengerti setiap pemberian Allah dan belajar untuk bersyukur," sekali lagi berjuraian air mata saya turun. Terasa lemah lutut hendak berdiri.
Emak menarik tubuh saya dan memeluk erat. Pelukan emak sangat-sangat kuat. "Emak dah didik anak emak dari belum lahir untuk mencintai Allah. Sekarang emak serahkan anak emak yang mak sayang sangat ni pada Allah untuk Dia pelihara," emak mengakhiri kata-katanya dengan suara sebak dan air mata yang mengalir ke bahu saya

SUBHANALLAH.......

Indah dan cantiknya ciptaan Allah, tiada yang lebih cantik kejadian hanyalah Allah sahaja yang mampu menciptanya.kawan2 jom tengok bunga2 nie...cantik sgt2 kan....inilah bukti kekuasaan Allah SWT..